mendorong bagi diadakannya pendekatan yang fleksibel bagi masalah-masalah yang dulu di angggap sangat sensistif.

Dalam KTT ASEAN terakhir di Hanoi, generasi baru ASEAN yang lebih liberal berusaha menghadang kekuatan lama konservatif yang dikhawatirkan akan menghambat laju reformasi politik dan ekonomi (Heder, 1998). Usaha penghadangan ini nampak pada –sekali lagi-- alotnya kamboja untuk masuk menjadi anggota ASEAN. Dalam bahasa Alison Broinowski, seorang profesor dari ANU, sedang berkecamuk pertarungan antar generasi bagi jiwa ASEAN, yang terjadi antara klik lama dengan pemimpin-pemimpin generasi baru, seperti Surin Pitsuwan (The Jakarta Post, 13 Desember 1998).

Penutup

Solidaritas ASEAN dibangun dan bisa terwujud ketika semua negara anggotanya sepakat untuk meredam isu-isu penting regional dan global demi terciptanya stabilitas bagi lancarnya proses akumulasi kapital. Lee Kwan Yew dan Soeharto di masa lalu bisa begitu dekat, misalnya karena mereka mempunyai kesamaan kepentingan di dalam negeri, rekayasa sosial yang sama, tingkat represi yang sama, dan musuh yang diciptakan sama, hantu komunis-marxis.

Krisis datang, dan memaksa para anggota ASEAN untuk meninggalkan cara lama berdiplomasi di antara sesama. Dan intervensi terhadap isu dalam negeri tidak lagi ditabukan. Peranan intervenor yang lebih besar juga dimainkan oleh kapital internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Terkait dengan hal ini, sekarang nasib ASEAN sedang dipertanyakan apakah bisa menciptakan stabilitas di kawasan Asia Tenggara, dan apakah agenda-agenda yang telah disepakati sebelumnya tetap bisa berjalan di tengah terpaan badai krisis.  hal11

artikel
hal1
hal2
hal3
hal4
hal5
hal6
hal7
hal8
hal9
hal10
hal11
hal12