Secara hipotetik, peranan IMF yang besar sebelum dan setelah kejatuhan Soeharto, cukup untuk menimbulkan impresi kepada semua negara anggota ASEAN, bahwa mengenai masalah transparansi dan good governance dan pada gilirannya demokrasi, mereka tidak lagi steril terhadap intervensi pihak lain. Negara yang sebelumnya dianggap sebagai pemimpin ASEAN-pun kini tidak lagi cukup kuat, ketika harus berhadapan dengan kekuatan kapital internasional melalui IMF dan Bank Dunia.

Hal lain yang patut dipertimbangkan sebagai penyebab melemahnya solidaritas ASEAN adalah munculnya generasi baru pemimpin ASEAN dengan wawasan dan pemahaman intersubyektif yang baru. Mengambil kerangka analisis dari para teoritisi konstruktivis,

tulisan ini menyoroti reproduksi dan transformasi cara negara-negara dalam memahami dan merespons dengan dinamika pemahaman (intersubjective) di tingkat domestik maupun sistemik. Melalui perubahan gagasan (ideational change) setiap individulah yang pada akhirnya merekonstruksikan seluruh bidang politik (Sudarman, 1998). Individu-individu ini adalah Surin Pitsuwan, menteri luar negeri Thailand dan deputinya, Sukhumband Paripara, para pejabat senior kementerian luar negeri Phlipina, Anwar Ibrahim, samapai taraf tertentu Joseph Estrada dan Presiden Habibie. Mereka semua memegang kepercayaan bahwa jalan kemajuan bagi Asia Tenggara adalah demokrasi dan transparansi. Generasi baru ini juga meragukan doktrin non-intervensi. Surin dengan didukung oleh pejabat senior kementerian luar negeri Philipina misalnya,

hal10 hal12
artikel
hal1
hal2
hal3
hal4
hal5
hal6
hal7
hal8
hal9
hal10
hal11
hal12